Walk Out Ananda di Acara Kolese Kanisius dan sikap Franz Magnis Suseno

akurat logo
Muslimin
Selasa, 14 November 2017 00:16 WIB
Share
 
Walk Out Ananda di Acara Kolese Kanisius dan sikap Franz Magnis Suseno
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan saat Berpidato dalam acara peringatan 90 Tahun Kolese Kanisius. ISTIMEWA

AKURAT.CO, Insiden Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghadiri Pesta Raya dan peringatan 90 tahun lembaga pendidikan Kolese Kanisius di Hall D JIExpo Kemayoran, Jakarta Utara, Sabtu malam (11/11), menjadi perbincangan hangat.

Pada kesempatan itu Anies pun diberi kesempatan untuk berpidato, namun sayangnya, saat dia memberikan pidato Ananda Sukarlan walk out dan diikuti oleh sejumlah alumni lainnya.

Anehnya, setelah memberikan pidato Anies pun disambut dengan dingin oleh hadirin yang tinggal, lalu dia pun meninggalkan tempat. Hadirin yang tadinya walk out pun memasuki ruangan kembali.

Ananda diketahui orang pertama yang keluar ruangan saat pidato Anies mengaku tak sejalan dengan nilai-nilai integritas Anies Baswedan. Karenanya, dia keluar dan tindak mendengarkan pidato orang nomor 1 di Jakarta itu.

"Walaupun Anda (panitia penyelenggara) mungkin harus mengundangnya (Anies Baswedan) karena jabatannya, tapi next time kita harus melihat juga orangnya", katanya dalam pesan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Senin (13/10).

Insiden Walk out Ananda tersebut menimbulkan pro dan kontra. Budayawan Erros Djarot merasa sedih dengan aksi walk out sejumlah Alumni Kolese Kanisius.

Menurut Erros, apa yang dilakukan Oleh Pianis Ananda Sukarlan tersebut tidak tepat. Ia mengatakan bahwa yang dilkukan Ananda Sukarlan itu tidak mencerminkan pada perilaku dan ajaran Jesus Kristus sang penebar kasih, penebar damai, dan sang pemaaf.

Isu sudah bergulir dipublik. Semua orang membicarakan aksi walk out Ananda tersebut. Namun, dibalik keguduhan tersebut, alangkah baiknya menyimak pesan dari Franz Magnis Suseno, yang juga menerima penghargaan dari Kanisius.

Franz Magnis-Suseno :

Teman-teman, Sabtu kemarin jam 21.30 saya masuk ruang di Jakarta-Expo Kemayoran, acara 100 tahun Kolese Kanisius. Saya minta perlu datang pas malam-malam karena belum merasa fit.

Ruang besar gelap, ada ratusan (seribu lebih?) orang, saya diduduki di baris pertama, di samping Pak Sarwono Kusumaatmadja. Acara masih musik/nyanyi-nyanyi. Kemudian lima orang satu-satu diminta ke panggung, menerima penghargaan, termasuk saya (saya terharu, tetapi sampai sekarang belum paham di mana jasa saya). Masih sebelum acara selesai saya minta diantar pulang karena capai.

Nah, sekarang saya baru tahu ada "kejadian Anies". Berhubung saya, secara tak langsung, terlibat, saya mau memberi pendapat saya.

Pertama, saya anggap sangat tepat Panitia Perayaan mengundang Gubernur DKI dan senang bahwa Gubernur memang datang. Wajar itu pada perayaan 100 tahun sebuah sekolah ternama di ibu kota.

Kedua. Namun apa yang terjadi kemudian - bukan salah Panitia! - menurut saya memalukan dan sangat saya sesalkan. Yaitu, begitu Gubernur bicara, sebagian besar hadirin, mengikuti Bpk Ananda Sukarln, meninggalkan ruang. Andaikata Gubernur mengatakan sesuatu yang tidak senonoh/jahat/menghina, walkout dapat dibenarkan.

Tetapi walk out kemarin menunjukkan permusuhan terhadap pribadi Gubernur merupakan suatu penghinaan publik. Kok bisa? Di negara mana pun, di luar pertemuan politik, hal itu jarang terjadi. Saya kutip Sdr. Abdillah Toha: apakah, dengan kejadian ini diviralkan, "justru tidak menjadi counter productive dan akan mempertajam permusuhan di negeri yang sudah rentan intoleransi itu?"

Ketiga: Anies adalah Gubernur sah DKI, dipilih secara demokratis oleh suatu mayoritas meyakinkan. Politisi mana di dunia yang dapat diterima kalau ukuran seperti yang dipasang terhadap Anies diterapkan pada mereka? Betul, ucapan hal "pribumi" pantas ditegur - dan sudah banyak ditegur, - tetapi gubernur macam apa Anies nanti, harus ditunggu dulu. Amat disayangkan bahwa sebagian peserta menggunakan kesempatan seratus tahun Kanisius untuk menunjukkan permusuhan terhadap Gubernur DKI.

Keempat, masih hal Anies: Bukankah sikap yang benar adalah: beri dia kesempatan untuk membuktikan diri? Kita Katolik tidak bisa memilih negara di mana kita hidup. 57 persen pemilih Jakarta memilih Anies. Umpamanya Habib Rizieq Syihab dipilih gubernur, kita juga harus dapat hidup dengan beliau. Kolese Kanisius harus menjalankan misinya dengan pemerintaan DKI mana saja, dan saya perkirakan bahwa justru karena itu Panitia mengundang Pak Anies.

Kelima. Sdr. Ananda Sukarlan berhak menolak Anies. Sebagai seorang Muslim ia tidak perlu dicurigai bersikap sektarian. Namun saya tetap tidak dapat menyetujui kelakuannya. Tamu harus dihormati, tamu datang karena diundang panitia, maka semua  yang ikut undangan panitia, harus menghormati tamu pun pula kalau secara pribadi tidak menyetujuinya. Silahkan panitia dikritik. Tetapi menginisiasikan suatu demonstrasi penghinaan terbuka terhadap Gubernur DKI saya anggap penyalahgunaan kesempatan.

Kelima. Rupa-rupanya - saya tidak mendapat teksnya - Sdr. Ananda juga mengritik bahwa Romo Provinsial Sunu Hardiyanta "basa-basi" saja. Kalau yang dimaksud bahwa Romo Provinsial tidak mengambil sikap politis terhadap Anies dan macam-macam kecenderungan primordial, melainkan "hanya" menghargai apa yang sudah dilakukan Kanisius serta mengharapkan bahwa Kanisius terus meningkatkan kualitasnya dan terus menghasilkan manusia-manusia Indonesia bermutu: Itu bukan basa-basi, itu yang saya harapkan provinsial mengatakannya. Kanisius diharapkan menjalankan misinya di masa depan juga kalau, barangkali, situasi menjadi lebih sulit. Kiranya justru tepat yang dikatakan Romo Provinsial.

Akhirnya, semoga Kanisius bisa maju terus, dan terus diterima baik oleh masyarakat Jakarta

Franz Magnis-Suseno SJ.[]


Editor. Ainurrahman

 

Rekomendasi

 

 

News Feed

Kapolri: TNI-Polri Harus Kompak Jaga Keutuhan NKRI

Sabtu, 21 April 2018 00:41 WIB

TNI dan Polri dalam menjaga keutuhan negara harus bersinergi.


Demokrat Masih Buka Peluang Koalisi dengan Jokowi dan Prabowo

Sabtu, 21 April 2018 00:30 WIB

Semua peluang sama besarnya.


Sandiaga Uno Harap PKS Dapat Jadi Bagian Wujudkan Jakarta Sejahtera

Sabtu, 21 April 2018 00:15 WIB

Kemitraan antara Pemprov DKI dengan PKS bisa terus berjalan dengan harmonis.


Wanita Militer Miliki Peran Strategis Bagi Peradaban Manusia

Sabtu, 21 April 2018 00:03 WIB

ak bisa dibayangkan jika seorang ibu melupakan atau melalaikan kewajibannya .


Viral Video Jari 98 Siap Dukung Aktivis Jadi Presiden 2019

Jumat, 20 April 2018 23:55 WIB

Tolak capres latar belakang militer 2019.


Amien Rais Patahkan Wacana Poros Ketiga Pilpres 2019

Jumat, 20 April 2018 23:35 WIB

Poros ketiga itu hanya untuk membuat rame aja. Pasti head to head.


Airlangga dan Rusli Habibie Deklarasikan Relawan 'GOJO' di Palu

Jumat, 20 April 2018 23:20 WIB

Keduanya kompak mendukung Joko Widodo sebagai calon Presiden pada Pemilu 2019 mendatang.


Ketua DPR Minta Pemuka Agama Doakan Kesuksesan Atlet di Asian Games

Jumat, 20 April 2018 23:20 WIB

"Saya harap ajang Asian Games bisa meredam konflik yang mungkin timbul," kata Bambang Soesatyo.


KPK: Penetapan Tersangka Baru Kasus Century Berdasarkan Putusan Budi Mulya

Jumat, 20 April 2018 23:05 WIB

Kasus Century menjadi tanggung jawab pihak KPK untuk menyelesaikan hingga tuntas.


Tinggalkan Formappi, Sebastian Salang Maju Jadi Caleg Partai Golkar

Jumat, 20 April 2018 23:00 WIB

Keputusan untuk meninggalkan Formappi adalah sebuah panggilan moral.


Tomy Winata Tegaskan Tak Dukung Gatot Maju di Pilpres 2019

Jumat, 20 April 2018 22:46 WIB

Pak Tomy hanya berteman biasa dengan Pak Gatot Nurmantyo.


KPAI Desak Polisi Usut Kasus Penganiyaan Oleh Guru SMK di Purwokerto

Jumat, 20 April 2018 22:44 WIB

Yang dilakukan oknum guru SMK Purwokerto melanggar UU apapun alasannya.


DPR: Penamparan Murid Tak Bisa Dibenarkan, Itu Kekerasan

Jumat, 20 April 2018 22:30 WIB

Upaya mendidik atau mendisiplinkan anak dengan melakukan kekerasan tak diperbolehkan.


Presiden Trump Undang Putin ke Gedung Putih

Jumat, 20 April 2018 22:10 WIB

Trump menyatakan akan senang melihat Putin di Gedung Putih.