Hari Pahlawan

Sejarawan: Pahlawan Zaman Now Melawan Oligarki Politik

akurat logo
Yudi Permana
Minggu, 12 November 2017 19:09 WIB
Share
 
Sejarawan: Pahlawan Zaman Now Melawan Oligarki Politik
Sejarawan Zen RS. AKURAT.CO/Yudi Permana

AKURAT.CO, Belum lama ini, negara ini telah memperingati Hari Pahlawan pada 10 November 2017. Dalam memperingati Hari Pahlawan, banyak cara yang dilakukan untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan, mulai dari upacara hingga ziarah ke makam Pahlawan.

Namun tidak sedikit yang belum memahami makna dari hari pahlawan tersebut, terutama para generasi milenial di zaman now pada saat ini.

Seyogyanya apa yang menjadi perjuangan dari para pahlawan terdahulu, bisa diambil pelajaran untuk bisa diaplikasikan dalam kehidupan saat ini, karena jangan sampai generasi muda hanya menikmati hasil dari perjuangan pahlawan yang rela mati dan sebagainya.

AKURAT.CO mencoba melakukan wawancara khusus dengan Sejarawan muda yakni Zen RS di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, pada Jumat 10 November 2017. Berikut petikan wawancaranya;

Apa makna hari pahlawan untuk saat ini menurut Anda?

Saya kira hari pahlawan itu harus dimaknainya di luar ritual yang selama ini dilakukan. Karena kita sudah sangat biasa memaknai setiap peristiwa tersebut dalam kerangka yang sangat ritualistik, dan setiap tahun berulang-ulang, repetitif, serta akhirnya menjadi seremonial saja.

Sementara pada acara-acara seperti ini kita mencoba membumikan kepahlawanan dalam praktek sehari-sehari, dimana seorang pahlawannya masih hidup, dan itu menurutnya merupakan suatu terobosan baru di zaman now.

Saya kira hal tersebut juga yang dibutuhkan saat ini, karena sudah terlalu sering membicarakan tentang pahlawan-pahlawan yang hidup pada 2-3 abad yang lalu. Jadi bukannya tidak penting, dan bukan bermaksud mengurangi jasa-jasa dari para pahlawan, tetapi sering kali itu menjadi seremonial belaka.

Maka menjadi sangat penting memaknai kepahlawanan yang di luar kerangka seremonial. Dan membicarakan sosok-sosok baru atau orang yang kita anggap sebagai model baru kepahlawanan, itu yang saya kira menjadi terobosan baru.

Siapa sosok baru yang bisa disebut Pahlawan di zaman Now?

Salah satu contoh sosok baru yang konkrit seperti Novel Baswedan, dimana kepahlawanan itu dilakukan dan masih bisa kita saksikan serta dirasakan sehari-sehari. Karena orangnya masih ada, sakitnya pun sama-sama masih bisa kita lihat, dan matanya dalam keadaan rusak yang menyedihkan jika kita melihat langsung.

Saya kira itu yang harus diperbanyak jika setiap kali kita membicarakan tentang kepahlawanan.

Pelajaran apa yang bisa dipetik dari perjuangan para pahlawan di masa lalu?

Saya kira yang harus kita pelajari dari pahlawan-pahlawan di masa lalu, bahwa mereka (para pahlawan) itu kalau bertindak tidak pernah sekonyong-konyong. Mereka tidak dilahirkan sebagai pahlawan, karena selalu ada situasi dan kondisi yang memaksa mereka untuk bertindak dan melakukan sebuah tindakan yang dikemudian hari disebut sebagai tindakan kepahlawanan.

Kita bisa mempelajari apa yang membuat mereka bertindak seperti itu. Dan saya kira yang jauh lebih penting lagi daripada kita mengingat tanggal-tanggal kapan mereka (para pahlawan) mulai bertempur, kapan mereka ditangkap oleh Belanda, dan kapan mereka mendapat gelar pahlawan.

Jika dulu lawan penjajah, sekarang ini apa yang harus dilawan? Apakah kemiskinan, korupsi, dan lain-lain?

Menurut saya, saat ini yang harus dilawan adalah oligarki politik, yang membuat kemiskinan, dan korupsi disebabkan salah satunya oleh oligarki politik yang mengakibatkan ekonomi, atau uang itu hanya dikuasai oleh segelintir orang saja.

Tadi saya sempat katakan di forum bahwa kalaupun nanti setelah ada Panama Papers, Paradise Papers, besok akan ada lagi papers-papers lain yang selalu muncul dengan orang-orang yang sama. Karena pada dasarnya memang kekayaan atau uang di Indonesia ini hanya dikuasai oleh segelintir orang-orang saja.

Maka dari itu kalau kita mau berbicara tentang apa musuh kita bersama sekarang, saya kira musuh bersama kita adalah oligarki, seperti korupsi, kemiskinan adalah turunan atau akibat dari oligarki politik yang sampai sekarang belum bisa kita selesaikan bersama.

Bagaimana tumbuhkan arti hari pahlawan buat anak zaman sekarang (Kids zaman Now)?

Saya kira yang harus dilakukan oleh anak-anak muda sekarang adalah bahwa kepahlawanan itu bukan sesuatu yang jauh. Dan kepahlawanan itu bukan sesuatu yang tidak terjangkau, seperti mungkin anak sekarang membayangkan pahlawan Diponegoro, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Imam Bonjol, atau Pattimura, dan lain-lain. Namun kepahlawanan itu sesuatu yang dilakukan sehari-sehari. Dan kepahlawanan itu artinya bertindak benar di saat yang tepat.

Seperti contoh, anda bahkan bisa melakukan dengan cara-cara, misalnya, anda kalau ditilang polisi, langsung bayar di pengadilan, jadi nggak usah cari cara jalan pintas. Kalau anda terkena macet, maka anda paksa dengan menembus kemacetan, dan tidak mengambil jalur yang bukan hak anda, baik itu trotoar yang merupakan haknya pejalan kaki, maupun jalur busway yang merupakan hak milik public transport.

Lantas seperti apa kepahlawanan pada zaman Now menurut anda?

Kepahlawanan itu menurut saya untuk sekarang ini adalah melakukan tindakan yang benar, di saat yang benar, dan itu dilakukan setiap hari. Karena hal itu merupakan tindakan-tindakan yang kecil sebetulnya. Kalau kita bisa melakukan itu dengan konsisten, saya kira kepahlawanan menjadi jauh lebih manusiawi, dan menjadi jauh lebih terjangkau.

Alasan di atas adalah kalau narasi kepahlawanan selama ini bahwa sesuatu yang disebut besar, agung, dan mengorbankan jiwa dan raga. Akan tetapi tidak perlu disebutkan seperti itu, karena ada banyak urusan-urusan sederhana yang kalau kita bisa selesaikan dengan tindakan yang benar setiap hari, saya kira itu akan membantu banyak.

Siapa yang bisa disematkan sebagai pahlawan di zaman Now ini?

Saya kira Novel Baswedan adalah salah satu yang bisa disebut pahlawan zaman Now. Selain itu juga, orang-orang yang mempertahankan hak-haknya dengan segala cara, itu bisa disebut model kepahlawanan, seperti para ibu-ibu yang mempertahankan sawahnya di daerah Kendeng, Jawa Timur, walaupun sudah menang di pengadilan, tapi tetap saja pabrik semen mau mengambil sawahnya.
Saya kira itu contoh model kepahlawanan, karena yang mereka lakukan, juga dilakukan oleh orang seperti Pangeran Diponegoro, yang bertempur karena dia ingin mempertahankan sepetak tanah miliknya. Dan itu banyak dimana-diaman

Jadi jangan mudah untuk termakan retorika tentang pembangunan, atau tentang apa saja, sementara orang yang melawan kebijakan negara sebagai anti pembangunan, saya kira itu kontra produktif, karena orang-orang yang justru mempertahankan hak-haknya, dengan segala macam cara, termasuk di asingkan, dihina, dan macam-macam, itu disebut sebagai pahlawan. Kita bisa belajar pada orang-orang yang mungkin tidak sekolah, dan tidak berpendidikan tinggi, tapi mereka tahu mempertahankan haknya.

Agar kita jangan menikmati perjuangan dari para pahlawan, dan jangan menikmati kemerdekaan saja atas perjuangan para pahlawan, itu harus seperti apa?

Kita harus melakukan apa yang memang menjadi kewajiban kita. Dan kita harus menikmati dan menuntut hak kita, pada saat yang sama kita tidak boleh mengambil hak orang lain, itu sisi sederhananya.

Kalau pemerintah kolonial tidak mengambil hak orang Bumi Putra di zaman itu, tidak akan ada perlawanan. Perlawanan selalu muncul karena ada hak orang lain yang diambil.

Kita jangan sampai menjadi penjajah-penjajah baru dengan mengambil hak orang lain, seperti hak pejalan kaki kita ambil dengan naik motor lewat trotoar, hak public transportasi kita ambil dengan mobil pribadi masuk jalur busway.

Kita harus menghargai orang-orang yang mempertahankan hak-haknya, seperti ibu-ibu di Kendeng, dan para petani yang kehilangan tanahnya karena projek-projek pembangunan, saya kira mereka harus dipandang sebagai pahlawan-pahlawan yang pada dasarnya mereka melakukan hal yang sama dengan yang dulu dilakukan oleh pahlawan-pahlawan nasional yang ada di Kalibata (TMP) maupun yang tidak ada di pemakaman Kalibata dalam arti yang ada di daerah-daerah lain.

Harapannya mengenai peringatan hari pahlawan ini untuk generasi milenial pada saat zaman Now?

Bertindaklah benar setiap hari, lakukan apa yang memang harus dilakukan, dan jangan pernah mengambil hak milik orang lain, sekecil apapun itu, karena ini persoalan setiap hari mengambil hak orang lain itu sesuatu dilema yang terus menerus kita hadapi, menyerobot antrian, hak pejalan kaki, dan macam-macam.

Apa itu dikategorikan disebut pahlawan di zaman Now?

Oh iya dong, buat saya, itu disebut pahlawan, karena kepahlawanan terlalu dikuasai oleh narasi-narasi yang besar, dan itu menjadi problemnya kita sekarang ini. Dan sialnya ketika kita membicarakan tentang pahlawan-pahlawan dengan narasi besar seperti melawan Belanda, dan segala macam, kita tidak cukup diberikan kesempatan untuk belajar secara detail, apa sih yang membuat mereka itu mengambil pilihan untuk mengangkat senjata dalam melawan penjajah.

Kita selalu mendengarkan narasi bahwa mereka dari lahir sampai mati kayanya sebagai orang yang selalu bersih, kan nggak begitu sebenarnya. Karena jika demikian, kepahlawanan akan menjadi sangat jauh, jadi hanya sedikit orang yang bisa menjadi pahlawan, kan nggak begitu. Menjadi pahlawan itu bukan berarti tidak boleh melakukan kesalahan.

Kita tidak pernah tahu kesalahan apa saja yang pernah dilakukan oleh mereka seperti Pangeran Deponegoro, Imam Bonjol, dan yang lainnya. Saya kira mereka manusia biasa, dan kita memilih untuk menarasikan hanya kebenaran-kebenaran dan keagungan-keagungannya saja. Dan cara itu hanya membuat kepahlawanan menjadi tidak terjangkau, karena seakan-akan kalau melakukan hal yang benar walaupun sepele, itu tidak berarti.

Menurut saya problem kita sekarang adalah setiap orang melakukan hal-hal dengan benar, setiap waktu dan setiap saat, serta tidak melanggar hak orang lain. Seperti korupsi adalah salah satu bentuk pelanggaran hak orang lain.

Problem dari perayaan hari pahlawan adalah terlalu jauh, terlalu besar, dan terlalu agung, sehingga kepahlawanan menjadi tidak terjangkau, dan pada saat yang sama kita mengabaikan kepahlawanan sehari-hari yang kecil dan remeh-temeh yang dalam narasi besar itu tidak pernah disebutkan kepahlawanan. []


Editor. Ainurrahman

 

Rekomendasi


 

 

News Feed

Polisi Batalkan Transaksi Narkoba Jenis Sabu di Sumenep

Minggu, 21 Januari 2018 03:32 WIB

Barang bukti berupa sabu-sabu yang disita dari tersangka tersebut sekitar 0,25 gram.


BPBD Lebak Imbau Masyarakat Waspada Angin Kencang

Minggu, 21 Januari 2018 03:05 WIB

BPBD mengimbau masyarakat mewaspadai angin kencang setelah sepekan terakhir ini sejumlah rumah rusak.


Prihatin, Pelajar SMP Pesta Minuman Keras di Kalteng

Minggu, 21 Januari 2018 02:28 WIB

Polsek Baamang mengamankan sembilan pelajar di sebuah rumah di Jalan Wengga Metropolitan III, Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang.


Zulhas Klaim 8 Fraksi DPR Setuju Miras Dijual di Warung-warung

Minggu, 21 Januari 2018 02:02 WIB

Sekarang ini sudah ada delapan partai politik di DPR RI yang menyetujui minuman keras dijual di warung-warung.


PDIP Utamakan Sihar Sitorus, Djarot Tak Diikutikan dalam Sekolah Kepemimpinan

Minggu, 21 Januari 2018 01:31 WIB

PDIP bakal ikutkan Sihar Sitorus dalam sekolah kepemimpinan.


KPU Nyatakan Berkas Pendaftaran Khofifah dan Emil Lengkap

Minggu, 21 Januari 2018 01:05 WIB

Hari ini tim 'liaison officer' (penghubung) untuk pasangan Khofifah-Emil sudah mengumpulkan semua berkas pendaftaran.


Tepis Ujaran Zulhas Soal LGBT, PPP: Jangan Jadi Pencitraan Politik

Minggu, 21 Januari 2018 00:32 WIB

Mari isu LGBT jangan hanya jadi jualan atau pencitraan politik saja.


Anti Klimaks, Arsenal Tak Bisa Tambah Angka di Babak Kedua

Minggu, 21 Januari 2018 00:12 WIB

Dengan hasil ini, Arsenal telah mengoleksi 39 poin dari 23 laga.


Jokowi Pamer Motor Barunya di Twitter

Minggu, 21 Januari 2018 00:04 WIB

Membeli motor tersebut salah satu upaya dalam mendukung inovasi dan kreatifitas pemuda dan industri di Indonesia.



Firman Soebagyo Sebut Ujaran Ketua MPR Berpotensi Bikin Gaduh

Sabtu, 20 Januari 2018 23:18 WIB

Kami sampaikan kepada publik bahwa DPR RI belum ada rencana pembahas RUU LGBT.


BABAK I: Arsenal Belum Selesai, 4 Gol di Babak Pertama Hanyalah Pembuka

Sabtu, 20 Januari 2018 23:11 WIB

Monreal membuka keunggulan Arsenal dengan tandukannya di menit keenam sebelum empat menit berselang Iwobi menggandakan keunggulan.



BABAK I: Turunkan Skuat Terbaik, Manchester United Tak Bisa Berkutik

Sabtu, 20 Januari 2018 22:57 WIB

Pogba yang mendampingi Matic dan Mata di lini tengah, memang tampak memiliki peran besar di laga ini.


Klaim 5 Fraksi DPR Dukung LGBT, Ketua MPR Bungkam Bocorkan

Sabtu, 20 Januari 2018 22:52 WIB

Sudah ada lima partai politik menyetujui LGBT.