Genosida Muslim Rohingya

Aung Suu Kyi Bohong! Tidak Ada al-Qaeda di Myanmar

akurat logo
Budi Prasetyo
Kamis, 14 September 2017 11:44 WIB
Share
 
Aung Suu Kyi Bohong! Tidak Ada al-Qaeda di Myanmar
Aung Suu Kyi . Reuters

AKURAT.CO, Lebih dari 300.000 Muslim Rohingya dipaksa untuk meninggalkan tanah air leluhur mereka di wilayah barat Myanmar. Mereka menghadapi ancaman pembunuhan, penyiksaan, pembakaran dan pemerkosaan massal oleh pasukan keamanan Myanmar.

Pemerintah Myanmar membela diri dengan mengatakan bahwa sekelompok etnis Rohingya melakukan aksi bersenjata. Keberadaan mereka mengancam keamanan Myanmar. Kelompok ini dituduh melakukan penyerangan kepada 30 pos polisi pada 25 Agustus 2017, sehingga menewaskan 12 petugas.

Kelompok ini diidentifikasi bernama Arakan Rohingya Solidarity Army (ARSA). Ini penjelasan versi pemerintah Myanmar. Namun ARSA memiliki pandangan yang berbeda.

Menurut mereka, penyerangan yang mereka lakukan tidak sebesar yang digembar-gemborkan militer Myanmar. Selain itu, penyerangan itu juga bentuk perlawanan atas kekerasan yang selama berpuluh tahun dilakukan pasukan Myanmar kepada etnis Rohingya. Siapa sebenarnya kelompok ARSA ini? Apa motif dibalik aksi mereka? Berikut penjelasannya, sebagaimana dilansir Al Jazeera (14/9):

Pertama, siapa ARSA itu? ARSA sebelumnya dikenal dengan nama Harakatul Yakeen. Kelompok ini pertama kali muncul pada bulan Oktober 2016. Saat itu mereka ditengarai menyerang tiga pos polisi di kota Maungdaw dan Rathedaung, menewaskan sembilan petugas polisi. Dalam sebuah video peryataan berdurasi 18 menit yang dikeluarkan Oktober lalu, Ataullah Abu Amar Jununi, pemimpin ARSA, menegaskan bahwa tentara Myanmar telah melebih-lebihkan aksi yang mereka lakukan. Militer Myanmar juga memberikan respon secara berlebihan atas peristiwa tersebut.

Jununi mengatakan bahwa penyerangan itu bentuk pembelaan diri atas kekejaman yang selama berpuluh-puluh tahun dilakukan militer Myanmar kepada etnis Rohingya.

"Selama lebih dari 75 tahun terjadi berbagai kejahatan dan kekejaman terhadap Rohingya. Oleh karena itu kami melakukan serangan 9 Oktober 2016, untuk mengirim sebuah pesan bahwa jika kekerasan tidak dihentikan, kami memiliki hak untuk membela kita sendiri," kata Jununi.

Maung Zarni, peneliti di Pusat Studi Ekstrimisme, mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan ARSA muncul sebagai pembelaan atas " genosida secara sistematis" yang dilakukan militer Myanmar.

"ARSA bukan kelompok teroris yang bertujuan menyerang jantung masyarakat Myanmar seperti yang diklaim pemerintah. Mereka adalah sekelompok pria tanpa harapan yang memutuskan untuk membentuk kelompok pertahanan diri dan melindungi orang-orang mereka yang tinggal dalam kondisi yang mirip dengan kamp konsentrasi Nazi yang penuh dengan penyiksanaan," kata Zarni.

Kedua, apa yang ARSA inginkan? ARSA mengatakan bahwa pihaknya memperjuangkan hak lebih dari satu juta etnis Rohingya. Selama ini hak-hak mereka sebagai warga negara tidak dipenuhi.

"Pembelaan diri kita ini sah sebagai perjuangan atas kelangsungan hidup kita sebagai manusia," kata Jununi dalam sebuah video yang diunggah ke media sosial pada tanggal 15 Agustus 2017.

"ARSA telah berada di Arakan selama tiga tahun dan tidak membawa kerugian atau kerusakan pada kehidupan dan sifat orang-orang Rakhine dan Rohingya," katanya.

Sementara pemerintah Myanmar membangun citra negatif tentang ARSA. Mereka menuduh kelompok ini sebagau "teroris" Muslim yang ingin menerapkan syariat Islam.

Anagha Neelakantan, Direktur Program Asia di International Crisis Group, mengatakan bahwa tidak ada ideologi yang jelas yang mendasari tindakan kelompok ARSA ini.

"Kelompok ini berjuang untuk melindungi Rohingya dan bukan yang lainnya. Tidak ada bukti bahwa ARSA memiliki kaitan dengan kelompok jihad lokal atau internasional, atau bahwa tujuan mereka selaras," kata Neelakantan.

Ketiga, mengapa ARSA muncul? Selama beberapa dekade, Rohingya telah menghadapi diskriminasi yang mengakar dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya oleh pemerintah militer Myanmar. Pada tahun 1948, ketika Inggris angkat kaki dari Myanmar, militer mengambil alih kekuasaan. Militer memulai beberapa kampanye untuk membersihkan etnis Rohingya.

Sejak tahun 2012, etnis Rohingya terus digambarkan sebagai "ancaman terhadap ras dan agama" di Myanmar. Keempat, apakah ARSA terkait dengan al-Qaeda atau ISIS? Aziz Khan, seorang etnis Rohingya mengatakan bahwa militer dan pemerintah sipil "menakut-nakuti" dengan citra negatif teroris tentang ARSA.

Padahal tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kelompok tersebut memiliki hubungan dengan kelompok teroris yang ditentukan.

"Media telah mengunci pernyataan pemerintah bahwa orang-orang ini adalah teroris. Ini sebuah kebohongan. Aung Suu Kyi berbohong, begitu juga tentara, tidak ada al-Qaeda di Rakhine," kata Aziz Khan.

Kelompok ARSA, lanjut Aziz Khan, tak memiliki senjata apapun, kecuali hanya tongkat, pedang dan senjata yang mereka ambil dari pos-pos militer. “Tidak ada bom," tegas Aziz Khan.

Jununi sendiri menegaskan bahwa ARSA "tidak berafiliasi dengan unsur teror apapun, juga tidak menerima dana dari organisasi lain".[]


Editor. Iwan Setiawan

 

Rekomendasi


 

 

News Feed

Ribuan Siswa Biak Peringati Hari Guru Nasional di Sekolah

Sabtu, 25 November 2017 08:51 WIB

Ribuan siswa dari berbagai jenjang pendidikan di Kabupaten Biak Numfor, Papua memperingati hari guru Nasional


PGRI Kaltim Minta Kesejahteraan Guru Lebih Ditingkatkan

Sabtu, 25 November 2017 08:45 WIB

Sebagai provinsi yang mencanangkan program wajib belajar 12 tahun, tentu Kaltim harusnya sudah mumpuni dalam aspek kesejahteraan guru


Pemkab Badung Apresiasi Guru Honorer Beri Gaji Sesuai UMK

Sabtu, 25 November 2017 08:43 WIB

Pemkab Badung, Bali, akan mengapresiasi para guru honor yang memenuhi jam mengajar dengan memberikan gaji sesuai UMK


Siapakah Militan Sinai yang Diduga Menyerang Masjid al-Rawda?

Sabtu, 25 November 2017 08:37 WIB

Serangan militan di masjid al-Rawda, Bir al-Abed, Sinai Utara, Mesir, terjadi secara mengejutkan dan brutal hingga menewaskan 235 orang


Sedang Jalani Program Bayi Tabung? Tetaplah Berhubungan Badan

Sabtu, 25 November 2017 08:35 WIB

Hubungan badan dikhawatirkan mengganggu transfer embrio yang memakan waktu selama 48 jam hingga dua pekan.


Singapura Kagumi Sumsel Tanpa Konflik

Sabtu, 25 November 2017 08:31 WIB

Singapura mengagumi provinsi Sumatera Selatan tanpa konflik sehingga perkembangan pembangunan cukup pesat.


Paduan Suara dan Orkestra Ramaikan Peringatan Hari Guru di Kemendikbud

Sabtu, 25 November 2017 08:24 WIB

Gubernur DKI Jakarata Anies Rasyid Baswedan yang juga mantan Mendikbud dijadwalkan mengisi acara tersebut


Masjid yang Diserang Militan Sinai Biasa Digunakan Pengikut Tasawuf

Sabtu, 25 November 2017 08:10 WIB

Beberapa kelompok militan, termasuk Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menganggap tasawuf sebagai bid'ah


Warna Bibir Ungkapkan Banyak Hal Tentang Kesehatan

Sabtu, 25 November 2017 08:05 WIB

Tak hanya mata, ternyata warna bibir bisa jadi deteksi masalah di tubuh lho.


Twitter Kembangkan Fitur Bookmark

Sabtu, 25 November 2017 07:51 WIB

Twitter telah mencoba sejumlah desain dan menentukan satu yang paling mudah untuk dinavigasikan dengan mengujinya kepada komunitas.


Kader PAN Desak Rusli Matdian Mengundurkan Diri dari Jabatannya

Sabtu, 25 November 2017 07:46 WIB

Sejumlah kader Partai Amanat Nasional Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan mendesak Ketua DPD Rusli Matdian agar mengundurkan diri.


Kamu Pecinta Kopi? Yuk Datang ke Toraja Coffee House

Sabtu, 25 November 2017 07:44 WIB

Kopi Toraja mendapat tempat di hati masyarakat, tidak hanya di Indonesia, namun juga di kancah Internasional.


Jennifer Dunn Dihujat, Hotman Paris: Orang Lain Punya Istri 4 Boleh

Sabtu, 25 November 2017 07:39 WIB

Kenapa orang lain punya istri empat boleh. Kan agama saya mengizinkan. Sudah itu aja.


Bangkitkan Sensasi Seks dengan Pola Pikir Erotis

Sabtu, 25 November 2017 07:32 WIB

Pola pikir bukan hanya berkaitan dengan pendidikan dan pekerjaan semata. Dalam urusan seks, pola pikir pasangan juga sangat penting.


Menyusui Bisa Cegah Alergi Makanan pada Bayi

Sabtu, 25 November 2017 07:29 WIB

ASI merupakan antibody alami yang bisa mencegah bayi terserang penyakit.