News / Berita

[INFOGRAFIS] SalahSasaran Kebijakan Imigrasi Trump

akurat logo
Budi Prasetyo
Rabu, 01 Februari 2017 16:08 WIB
Share
 
[INFOGRAFIS] SalahSasaran Kebijakan Imigrasi Trump
Data: Andri Susanto/Grafis: Lukman Hakim Naba.

Jakarta, Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait dengan pelarangan imigran dari 7 (tujuh) negara muslim masuk ke AS menuai penentangan dari seluruh lapisan masyarakat  dan juga dunia. Ketujuh negara tersebut adalah Iran, Irak, Suriah, Yaman, Somalia, Sudan dan Libya. Kebijakan ini dianggap diskriminatif dan bertentangan dengan spirit hak asasi manusia. Sementara Trump berkilah langkah ini penting untuk memberi rasa aman bagi warga AS dan mengantisipasi potensi aksi teror.

Namun, dilihat dari beberapa sisi, kebijakan Trump ini sebenarnya berdampak negatif terhadap AS sendiri. Dari sisi jumlah populasi, penduduk imigran di AS memang relatif kecil jumlahnya. Namun dari sisi peran dan kontribusi mereka bagi AS, tak bisa diragukan. Banyak dari tokoh-tokoh populer di AS dari berbagai bidang, mulai artis, inovator tekhnologi, akademisi, politisi, merupakan keturunan imigran. Bahkan Steve Jobs, inovator kebanggan AS, ayahnya seorang imigran asal Suriah. Mark Zuckerberg juga keturunan Yahudi. Sebagai imigran, mereka menunjukkan loyalitas dan nasionalisme yang tak kalah dengan penduduk asli. Berdasarkan data, sekitar 10 ribu penduduk imigran itu bertugas di kemiliteran, bidang yang membutuhkan totalitas pengabdian dan nasionalisme. 

Kebijakan Trump tentu akan menciptakan psikologi sosial yang tidak baik terhadap sebagain penduduk AS, bukan hanya imigran. Dan ini menjadi bibit kebijakan politik yang cenderung diskriminatif, di tengah-tengah citra AS sebagai kampiun demokrasi.

Menurut data, populasi penduduk AS dari 7 negara tersebut sebanyak 856 ribu penduduk. Yang terbesar adalah imigran dari Iran, yaitu 383.527 penduduk. Di posisi kedua adalah imigran asal Irak sebesar 199.380 penduduk. Imigran terbesar ketiga berasal dari Suriah, yaitu 84.035 penduduk. Setelah itu menyusul imigran asalh Somalia (83.843), Yaman (50.501), Sudan (40.663), dan Libya (14.505). Seluruh penduduk imigran tersebut tersebar di berbagai wilayah dan negara bagian. California selatan dan Detroit merupakan basis tinggal para imigran, terutama keturunan Arab dan muslim. Bahkan sebagian tinggal di kota-kota besar seperti Los Angles, yang membuktikan bahwa strata sosial mereka cukup tinggi. Mereka juga sangat adaptif dengan lingkungan sekitar, tidak mengisolir diri secara sosial. 

Yang menarik jika melihat tingkat pendidikan penduduk imigran dari 7 negara tersebut. Data menunjukkan bahwa mereka masuk dalam well educated (terdidik). Fakta ini kontras dengan kesan selama ini bahwa imigran cenderung berpendidikan rendah.

Imigran asal Iran dan Libya misalnya, jumlah yang mengenyam pendidikan hingga tingkat strata 2 (paskasarjana) mencapai 27%. Dilihat secara total populasi, persentase sangat tinggi. Sementara yang berpendidikan strata 1 (sarjana) dari kedua negara tersebut sebanyak 27% (Iran) dan 32% (Libya).

Sementara imigran Suriah dan Sudan yang tingkat pendidikannya paskasarjana sebanyak 18% dan 14% dan untuk sarjana sebanyak 19% dan 22%.

Imigran asal Irak juga sama, jumlah yang berpendidikan sarjana sebanyak 21% dan sekolah menengah atas (SMA) 43%.

Contoh lain yang tak kalah menariknya adalah imigran Somalia dan Yaman, dua negara yang dianggap terbelakang secara edukasi. Faktanya, imigran Yaman dan Somalia yang berpendidikan SMA mencapai 41% dan 49%. Bahkan ada yang berpendidikan sarjana dan paskasarjana, meski jumlahnya dibawah 1%. Data ini membuktikan bahwa kesan bahwa imigran cenderung tidak berpendidikan terbantahkan. Kesadaran mereka akan pendidikan sangat tinggi. Sementara kebijakan imigrasi Trump sepertinya melihat mereka sebagai kelompok masyarakat yang tidak berpendidikan dan potensial menimbulkan masalah sosial. 

Dari sisi pekerjaan, para imigran dari 7 negara tersebut juga menguasai bidang-bidang kerja yang membutuhkan skill tinggi. Imigran Iran, Suriah dan Libya dominan menjadi manajer, insinyur, dan guru. Tingkat gaji yang mereka terima juga sangat tinggi. Bahkan ada yang mencapai 60 ribu Dollar AS, lebih tinggi dari tingkat gaji kelas menengah disana. Sementara imigran Somalia dan Sudah mayoritas berprofesi dalam bidang manufaktur dan transportasi dengan tingkat rata-rata gaji 20 ribu Dollar AS hingga 40 ribu Dollar AS.

Kebijakan Trump terhadap para imigran ini dimaksudkan untuk memberi rasa aman terhadap penduduk AS. Langkah ini bagian dari skenario Trump untuk membersihkan AS dari ancaman terorisme. Dengan menerapkan pengetatan masuknya para imigran, Trump berharap potensi terjadinya tindak terorisme menurun drastis. Namun ironisnya, data menunjukkan bahwa sejak tahun 2011, dari seluruh aksi teror yang terjadi di AS, hanya 3 (tiga) yang pelakunya warga imigran. Selebihnya dilakukan oleh warga negara nonimigran.

Malah, jika ditarik lebih jauh lagi sejak tragedi Wordl Trade Center 2001, mayoritas pelaku teror adalah imigran yang bukan dari 7 negara yang disebutkan Trump dalam kebijakannya tersebut. Misalnya, pelaku teror WTC sebanyak 19 orang adalah warga negara Arab Saudi, Mesir, dan Lebanon. Namun tiga negara ini tidak ada dalam daftar cekal Trump. Pelaku teror di California warga negara keturunan Pakistan, teror di Orlando warga negara keturunan Afghanistan, dan teror Times Square, New York, adalah warga negara keturunan Pakistan. Artinya, sebagai sebuah langkah antisipatif, kebijakan pengetatan imigrasi Trump tidak tepat sasaran. Yang di sasar justru negara-negara nonpelaku teror.

Menurut data New America Foundation, 82% insiden terorisme sejak 2001 dilakukan oleh warga negara dan penduduk tetap AS. Kajian yang dilakukan oleh Institut Cato menunjukkan bahwa warga Amerika 235 kali lebih mungkin mati karena pembunuhan biasa dibandingkan mati karena serangan teroris yang dilakukan oleh orang asing di AS. Senator John McCain dan Lindsey Graham dari partai Republik, rekan separtai Trump sendiri menegaskan kesalahkaprahan kebijakan Trump ini. Menurut keduanya, kebijakan Trump tersebut jutsru akan lebih banyak membantu perekrutan teroris dan bukannya meningkatkan keamanan AS, karena sinyal kebencian yang dikirimkan ke dunia Muslim.[]

 

Rekomendasi


 

 

News Feed

Bejat! Bapak Ajak Anak Tuk Bunuh Pejalan Kaki

Minggu, 21 Januari 2018 04:03 WIB

Polda Sumut tangkap 3 pelaku pembunuhan di Dusun I Desa Nagur, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai.


Polisi Batalkan Transaksi Narkoba Jenis Sabu di Sumenep

Minggu, 21 Januari 2018 03:32 WIB

Barang bukti berupa sabu-sabu yang disita dari tersangka tersebut sekitar 0,25 gram.


BPBD Lebak Imbau Masyarakat Waspada Angin Kencang

Minggu, 21 Januari 2018 03:05 WIB

BPBD mengimbau masyarakat mewaspadai angin kencang setelah sepekan terakhir ini sejumlah rumah rusak.


Prihatin, Pelajar SMP Pesta Minuman Keras di Kalteng

Minggu, 21 Januari 2018 02:28 WIB

Polsek Baamang mengamankan sembilan pelajar di sebuah rumah di Jalan Wengga Metropolitan III, Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang.


Zulhas Klaim 8 Fraksi DPR Setuju Miras Dijual di Warung-warung

Minggu, 21 Januari 2018 02:02 WIB

Sekarang ini sudah ada delapan partai politik di DPR RI yang menyetujui minuman keras dijual di warung-warung.


PDIP Utamakan Sihar Sitorus, Djarot Tak Diikutikan dalam Sekolah Kepemimpinan

Minggu, 21 Januari 2018 01:31 WIB

PDIP bakal ikutkan Sihar Sitorus dalam sekolah kepemimpinan.


KPU Nyatakan Berkas Pendaftaran Khofifah dan Emil Lengkap

Minggu, 21 Januari 2018 01:05 WIB

Hari ini tim 'liaison officer' (penghubung) untuk pasangan Khofifah-Emil sudah mengumpulkan semua berkas pendaftaran.


Tepis Ujaran Zulhas Soal LGBT, PPP: Jangan Jadi Pencitraan Politik

Minggu, 21 Januari 2018 00:32 WIB

Mari isu LGBT jangan hanya jadi jualan atau pencitraan politik saja.


Anti Klimaks, Arsenal Tak Bisa Tambah Angka di Babak Kedua

Minggu, 21 Januari 2018 00:12 WIB

Dengan hasil ini, Arsenal telah mengoleksi 39 poin dari 23 laga.


Jokowi Pamer Motor Barunya di Twitter

Minggu, 21 Januari 2018 00:04 WIB

Membeli motor tersebut salah satu upaya dalam mendukung inovasi dan kreatifitas pemuda dan industri di Indonesia.



Firman Soebagyo Sebut Ujaran Ketua MPR Berpotensi Bikin Gaduh

Sabtu, 20 Januari 2018 23:18 WIB

Kami sampaikan kepada publik bahwa DPR RI belum ada rencana pembahas RUU LGBT.


BABAK I: Arsenal Belum Selesai, 4 Gol di Babak Pertama Hanyalah Pembuka

Sabtu, 20 Januari 2018 23:11 WIB

Monreal membuka keunggulan Arsenal dengan tandukannya di menit keenam sebelum empat menit berselang Iwobi menggandakan keunggulan.



BABAK I: Turunkan Skuat Terbaik, Manchester United Tak Bisa Berkutik

Sabtu, 20 Januari 2018 22:57 WIB

Pogba yang mendampingi Matic dan Mata di lini tengah, memang tampak memiliki peran besar di laga ini.