Genosida Muslim Rohingya

Aung San Suu Kyi Tak Akan Hadiri Sidang PBB Tahun Ini

akurat logo
Dedi Ermansyah
Rabu, 13 September 2017 15:34 WIB
Share
 
Aung San Suu Kyi Tak Akan Hadiri Sidang PBB Tahun Ini
State Consellor Myanmar, Aung San Suu Kyi.. Foto: The Gurardian.

AKURAT.CO, State Consellor Myanmar, Aung San Suu Kyi menegaskan bahwa dirinya tidak akan menghadiri Sidang Umum PBB di New York, di tengah tekanan internasional untuk menyelesaikan kekerasan etnis Rohingya.

Juru bicara Aung San Suu Kyi, Aung Shin mengatakan pada tahun ini, dia tidak akan menghadiri acara tersebut dan mengaku tidak tahu apa alasannya.

"Dia tidak pernah takut menghadapi kritik dan masalah. Mungkin dia punya masalah yang lebih mendesak untuk diselesaikan di sini," kata Aung Shin, dikutip dari kantor berita Reuters, Rabu (13/9).

Saat ini, kekerasan di wilayah Rohingya memaksa  370.000 warga mengungsi ke Bangladesh. Krisis itu disebabkan oleh penggunaan kekerasan berlebihan oleh pasukan keamanan pemerintah untuk memburu gerilyawan radikal Rohingya itu adalah tantangan terbesar yang dihadapi Suu Kri sejak menjadi pemimpin Myanmar pada tahun lalu.

Banyak pihak yang akhirnya mendesak agar hadiah Nobel Perdamaian untuk Suu Kyi dicabut karena membiarkan pelanggaran hak asasi manusia terhadap minoritas di negara yang dipimpinnya.

Tekanan internasional terus membesar terhadap Myanmar untuk menyelesaikan konflik di negara bagian Rakhine yang dimulai pada 25 Agustus lalu saat sekelompok radikal Rahingya menyerang 30 pos kepolisian dan sebuah pangkalan militer.

Serangan itu kemudian dibalas oleh operasi militer, yang oleh para pengungsi disebut bertujuan untuk mengusir Rohingya dari Myanmar.

Kabar dari para pengungsi dan pemantau hak asasi manusia menunjukkan serangan yang luas terhadap desa-desa di wilayah utara Rakhine oleh pasukan keamanan dan kelompok ekstrimis Buddha. Mereka dikabarkan membakar desa-desa Rohingya.

Namun Myanmar membantah berita itu, mereka justru menuding para gerilyawan Rohingya sebagai pelaku. Pemerintah juga mengatakan bahwa 30.000 penduduk Buddha juga menjadi korban pengungsian.

Pemerintah Amerika Serikat mendesak Myanmar untuk melindungi warga sipil. Sementara Bangladesh meminta Myanmar untuk memulangkan para pengungsi.

Namun China, yang merupakan pesaing Amerika Serikat untuk mendapatkan pengaruh di kawasan Asia Tenggara, mengatakan pada Selasa bahwa mereka mendukung upaya Myanmar untuk melindungi "pembangunan dan stabilitas." Dewan Keamanan PBB akan bertemu di ruang tertutup pada Rabu ini untuk membahas situasi krisis Rohingya.[]


Editor. Ridwansyah Rakhman

 

Rekomendasi


 

 

News Feed

ADB : Investasi dan Ekspor Topang Pertumbuhan Ekonomi hingga Tahun Depan

Selasa, 26 September 2017 14:29 WIB

Menurutnya ADB, pertumbuhan kredit akan membaik secara bertahap, menyusul pemangkasan suku bunga acuan BI.


Johanna Konta dan Sloan Stephens Tersingkir di Wuhan

Selasa, 26 September 2017 14:28 WIB

"Anda tidak abisa sukses dan menang sepanjang masa," kata Johanna Konta.


Ekonomi Kreatif Bisa Berkontribusi 12 Persen terhadap PDB 2019

Selasa, 26 September 2017 14:27 WIB

Program Bekraf Satu Pintu diharapkan bisa mempercepat pengembangan sektor ekonomi kreatif yang dapat menjadi tulang punggung perekonomian na


Eksekusi Jaminan Fidusia, Perusahaan Pembiayaan Ini Gandeng Polda Metro Jaya

Selasa, 26 September 2017 14:22 WIB

Kerja sama ini diharapkan mampu membangun keselarasan pemahaman antara team Iapangan Kredit Plus dengan pihak kepolisian.


Bekraf Resmi Luncurkan Progam Satu Pintu

Selasa, 26 September 2017 14:20 WIB

Satu Pintu merupakan program kurasi dalam hal fasiiitasi bantuan BEKRAF untuk para pelaku dalam ekosistem ekonomi kreatif


Pertikaian dengan CR7 Penyebab Nistelrooy Hengkang dari Manchester

Selasa, 26 September 2017 14:15 WIB

Perseteruan dengan Cristiano Ronaldo dianggap menjadi alasan utama Hengkangnya Ruud van Nistelrooy


Aturan Ketenagakerjaan Sudah Tak Relevan di Era Disruptive

Selasa, 26 September 2017 14:10 WIB

Chatib: Disruptive innovation yang terjadi itu akan membuat bisnis model yang ada sekarang bisa menjadi tidak relevan di masa depan.


Pengamat: Kasus Nikahsirri.com Bukti Tipisnya Perbedaan Rasionalitas dan Irasionalitas

Selasa, 26 September 2017 14:10 WIB

Situs nikahsirri.com menunjukkan salah satu dampak dari internet adalah tipisnya batas antara rasionalitas dan irasionalitas


Bangun Hotel Baru, Saham MDLN Potensi Melaju Positif

Selasa, 26 September 2017 14:06 WIB

Manajemen Modernland optimis jika penjualan di tahun 2017 akan meningkat seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian global.


Mandiri Gelar Diskusi Rumuskan Strategi Kelola Tenaga Kerja di Era Disruptive

Selasa, 26 September 2017 14:03 WIB

Samjay: Saat ini korporasi di Tanah Air memiliki tantangan baru dalam merumuskan kebijakan perusahaan dan pengelolaan ketenagakerjaan


KPK Masalahkan Kehadiran Romli di Praperadilan Setnov

Selasa, 26 September 2017 14:00 WIB

Karena menghadiri undangan Pansus Angket, kehadiran Romli Atmasasmita dipermasalahkan KPK


Saat Latihan, 'Aset Berharga' Aubameyang Terhantam Bola

Selasa, 26 September 2017 13:57 WIB

Aubameyang juga menatap rekor milik legenda Bayern Munich


Buka Pekan Pertambangan dan Energi Expo, Menteri Jonan Tegaskan Pemerintah Tak Hambat Izin Pertambangan

Selasa, 26 September 2017 13:56 WIB

Jonan: Penyederhanaan peraturan di sektor migas dan minerba dan EBTKE mudah-mudahan terus bisa berjalan


Diduga Melakukan Suap, PT Pagoda Mitra Abadi Dilaporkan ke KPK

Selasa, 26 September 2017 13:55 WIB

Perwakilan warga Sampiran, Kabupaten Cirebon akan melaporkan PT Pagoda Mitra Abadi (PT PMA) ke KPK